Spiritualitas Politik
Oleh Al-Muzzammil Yusuf
Jika politik di anggap wilayah yang kotor, maka berkecimpung di dalamnya akan berkonsekuensi mengotori spiritualitas (ruhiyah). Tapi, jika politik adalah medan perjuangan dakwah, maka pada saat yang sama ia akan menjadi sarana tarbiyah, termasuk tarbiyah ruhiyah. Sebagaimana pengalaman politik saya bersama PK Sejahtera selama ini.
Keteladanan Aleg
Di tengah “keluguan politik” anggota legislatif (Aleg) PK (sekarang PK Sejahtera) yang seratus persen pendatang baru di dewan, mayoritas mereka-alhamdulillah-telah tampil menjadi simbol kejujuran. Bahkan, sebagian mereka telah mempertaruhkan nyawanya untuk menentang penyimpangan (kasus suap pencalonan Bupati; pengungkapan sogokan DPR Propinsi; dan lain-lain). Sebagian lagi terus memelihara kepekaan terhadap derita kemiskinan rakyat dan kesederhanaan para kader PK Sejahtera. Sehingga setiap kali akan menikmati gajinya dan berbagai fasilitas dewan, yang terbayang adalah kemiskinan masyarakat dan para kader partai. Padahal di depan matanya “uang haram” bernilai puluhan, ratusan juta, bahkan miliaran berseliweran. Dalam sebuah kesempatan mereka berkata pada saya dengan raut kesedihan: “kalau tidak sungguh-sungguh mempertahankan diri, moral antum akan terkotori oleh aleg-aleg korup itu. Ana ingin lihat bagaimana nanti antum jika sudah masuk Dewan, bisa nggak tetap idealis!”. Masya Allah! Laa haula wa laa quwwata illa billah. Nurani saya terhentak atas tausiyah aleg PKS yang Pantang Korupsi Sogokan.
Keteladanan Fungsionaris
Saya telah menjadikan beberapa fungsionaris partai di berbagai level sebagai “teladan”. Ada fungsionaris yang sangat produktif, sehingga saya berkeyakinan, partai benar-benar akan kehilangan jika orang-orang seperti ini absen. Ada fungsionaris yang baru masuk menjadi anggota dewasa, tapi komitmen kerjanya melebihi kader ahli. Saya merasakan ikhwah itu seperti menggantikan 2-3 orang fungsionaris yang kerjanya tak optimal. Saya menemukan fungsionaris yang hari-harinya berpikir bagaimana menggerakkan kader lainnya untuk “menjual” partai dari rumah ke rumah. Ia bertekad untuk menularkan semangatnya ke seluruh kader di berbagai DPD. Ada ketua DPD yang ketika masih tak sadarkan diri akibat dibius dalam operasi bedah, mengigau: “Hidup PK Sejahtera!”. Dokter dan bidan yang mengoprasi sang Ketua bertanya keheranan, “Bagaimana cara membentuk kader seperti ini?”. Nurani saya tertegun, malu dan kagum kepada mereka. Mereka sesuai dengan nama PKS, yakni Partai Kader Sejati.
Keteladanan Kader
Tim Lajnah Pemilu Pusat (LPP), ketika keliling ke daerah, telah menyaksikan fungsionaris dan para kader menghidupkan jihad maali (tabungan pemilu) di tengah berbagai kendala keuangan mereka. “Cara mereka menabung seperti memeras cucian yang sudah berkali-kali mereka peras, sehingga yang tidak ada lagi air yang menetes. Walau hanya recehan, mereka tetap menyumbang. Bahkan juga sudah pakai menyisihkan beras yang mereka konsumsi, sebagai tambahan tabungan pemilu”, begitu kata pak Razikun, Ketua LPP, menggambarkan kejadian di satu DPW.
Cerita-cerita seperti di atas ini yang membuat saya gemetar dan grogi ketika berhadapan dengan ribuan massa ketika peresmian DPW dan DPD di daerah-daerah. Bukan karena tidak punya bahan untuk pidato, saya gemetar dan grogi karena saya yakin sedang berhadapan dengan orang-orang yang sudah berkorban besar untuk jalannya partai dakwah ini. Pada saat yang sama, saya pun merasa terharu ketika melihat mereka “mojok”, memakan bekal perjalanan bersama anak dan istrinya, di bawah pohon dan terik matahari; atau naik motor “butut” bertiga, berempat, bahkan berlima dengan anak-anaknya. Nurani saya bergetar menyaksikan jihad dan romantisme kader PKS. Mereka benar-benar sesuai dengan nama PKS, yakni Partai Kantong Sendiri dan Partai Keluarga Sakinah.
Keteladanan Tokoh Umum & Simpatisan
Seorang tokoh nasional menolak ajakan sebuah partai besar untuk bergabung dan menduduki posisi strategis. Ia lebih memilih menjadi kader PK Sejahtera. Sekalipun dengan ini, ia tidak mendapatkan posisi apapun di PK Sejahtera. Itu semua karena panggilan idealismenya. Padahal, tokoh-tokoh yang lain sibuk melakukan intrik untuk duduk di salah satu partai besar itu. Saya mengetahuinya karena sang tokoh itu kebetulan duduk persisi di sebelah saya saat menolak ajakan itu lewat handphonenya. Ketika itu kami sedang diskusi dengan kader PK Sejahtera.
Di sebuah daerah, seorang Aleg DPRD II dari salah satu partai Islam—yang di sana tidak ada Aleg PK Sejahtera–telah rela melepaskan “kursi empuknya”. Semata-mata karena alasan idealismenya. Katanya : “Dewan telah dipenuhi ’ular’, bukan manusia”. Lalu ia memilih masuk PK Sejahtera. Walaupun dengan ini, belum tentu ia bisa duduk di kursi “empuk” Dewan pada masa berikutnya.
Seorang ulama besar di NTB, yang tidak ada kaitannya dengan PK Sejahtera, bermunajat di depan Ka’bah ketika berhaji. Ia sangat prihatin akan masa depan ummat dan bangsa Indonesia. Ia meminta petunjuk Allah untuk pemilu masa depan. Hingga ia dapatkan keyakinan bahwa ia harus mendukung PK Sejahtera. Ia mendukung partai ini, walaupun tidak ada barter duniawi.
Saya terkagum-kagum, betapa mereka telah mendukung PK Sejahtera tanpa pretensi jabatan duniawi. Mereka ini memahami PKS sebagai Partai Keikhlasan Sanubari.
***
Pengalaman-pengalaman di atas membuat saya merenung. Ternyata kegiatan politik pun dapat memberikan tarbiyah spiritual (ruhiyah) yang luar biasa. Pada saat yang sama, kekuatan spiritual seseorang pun, baru terukur di medan “perang” yang sesungguhnya. Untuk menjadi pedang yang tajam, besi baja harus di panggang dalam bara api dan ditempa palu godam. Apatah lagi untuk masuk surga Ilahi. Allahumma ya muqollibal quluub, tsabbit quluubana ala’thooatik.
[...] Spiritualitas Politik [...]
By: Kader PKS - Menghimpun potensi kader dan ummat on February 14, 2008
at 3:29 am