Jagalah Dirimu!
Oleh Rofi’ Munawar, Lc
Dunia kompetisi adalah dunia keras. Di tengah kerasnya kompetisi seringkali memunculkan situasi keterjepitan. Dan keterjepitan adalah saat-saat dimana seseorang sering mengambil jalan pintas. Tanpa aturan. Tanpa rambu-rambu. Atau bahkan ada kesengajaan untuk melanggar. Yang lebih menyedihkan jika pelanggaran ini dibuatkan aturan sehingga menjadi legal dan tanpa beban.
Tentunya ini terjadi karena suasana kepanikan. Kepanikan selalu menghadirkan peluang-peluang penyimpangan. Kepanikan tidak jarang memunculkan sosok-sosok anti kemapanan. Berbagai macam desakan menghantui. Aneka bentuk tekanan selalu menyertai. Jadilah sang kompetitor kebajikan kehilangan kendali dan kemudian melaju bak bahtera tanpa kemudi.
“Wahai orang-orang beriman jagalah dirimu, tidaklah membahayakan ketersesatan orang jika kalian mendapatkan hidayah.” Inilah hidayah. Di sinilah letak urgensi hidayah. Di sini pula orang akan tahu betapa mahalnya hidayah.
Hidayah akan menjadikan seseorang tahu diri. Dengan hidayah seseorang akan memahami apa yang terbaik bagi dirinya. Di dalam hidayah terdapat tolok ukur. Dalam hidayah, ada idealitas dan ada realitas. Di sini, seseorang akan mengetahui hakekat dirinya, dan karenanya ia tidak akan melakukan sesuatu di luar yang digariskan kepadanya.
Bukan saja menyangkut perilaku, tapi juga kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi pada dirinya. “Allah sangat merahmati orang yang tahu kadar dirinya,” demikian sabda Rasulullah.
Dia bekerja bukan karena desakan orang. Dia beramal bukan karena meniru orang. Apalagi sambil menari dengan genderang yang di tabuh orang lain. Proses perenungan terhadap diri, inilah yang menjadikannya tahu apa yang terbaik yang harus dia lakukan. Apa yang ada pada orang, hanyalah variabel masukan bukan pedoman, apalagi mainstream. Dan karenanya, kerasnya kompetisi tidak akan menjadikannya kehilangan identitas diri.
Hidayah akan menjadikan seseorang tahu arah. Kemana kaki harus melangkah. Kemana tujuan yang harus ditempuh. Mana jalan yang harus dilalui. Semuanya jelas terpampang di depan mata. “Dan ini adalah JalanKu yang lurus, maka ikuti jalan itu. Dan jangan sekali-kali kalian mengikuti jalan-jalan lain yang menjadikan kalian disesatkan dari jalan yang lurus tadi”. (Al An’am 153).
Inilah paradigma yang harus dipegang. Jangan sampai kerasnya kompetisi dan ketatnya persaingan menjadikan jalan mengalami keterjepitan. Semakin mereka mengalami kesulitan. Justru rambu-rambu perjuangan mereka semakin terarah. Tidak panik. Tidak bingung.
Memang dunia kompetisi tidak jarang memproduk orang-orang bingung, tidak tahu arah. Namun seorang yang mendapatkan petunjuk dan hidayah, kompetisi akan menjadikan dirinya semakin kokoh untuk melalui jalan mana yang seharusnya dia tempuh. Demikianlah, hidayah akan menjadikan seseorang memiliki identitas diri. Hidayah akan memastikan seseorang tidak akan kehilangan jati diri.
Ketika lingkungannya baik, maka dia akan menjadi pelaku dan suporter utama dari kebajikan-kebajikan yang ada. Namun jika lingkungannya jelek, maka dia tetap tegar dan tidak larut dalam kejelekan yang terjadi, bahkan menjadi unsur perubah ke arah yang lebih baik. Sungguh Maha Besar Allah ketika berfirman yang maknanya: “Wahai orang-orang beriman jagalah dirimu, tidak akan membahayakan ketersesatan orang, jika kalian mendapatkan hidayah”.
Desember 2007/Dzulhijjah 1428